Notification

×

Iklan

Iklan

Manusia Mati Meninggalkan Amal

Senin, Juni 14, 2021 | 11:01 WIB Last Updated 2021-09-03T14:07:12Z

Pikirkan baik-baik, apa yang kita makan pada akhirnya akan musnah seketika. Apa yang kita pakai suatu saat pun akan rusak. Apa yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan, selain hanya kain kafan untuk membungkus jasad. Tidak ada yang akan dibawa serta, termasuk sanak-keluarga, suami ataupun istri.

Kita hanya sendiri, ditemani amal kita yang pernah dilakukan di dunia. Manusia hanya dinilai dari amal yang dilakukannya, termasuk karya yang dihasilkannya. Kebesaran jiwa seseorang yang menentukan apakah karyanya kelak menjadi sesuatu yang besar atau kecil. Nah, pertanyaannya, apa karya kita?

Lakukanlah sesuatu dengan tekun. Apapun bidang yang kita tekuni, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Menekuni bidang teknik seperti Edison atau menekuni bidang perancangan pesawat terbang seperti Habibie. Silakan. Menekuni bidang ekonomi, arsitektur, atau seni pun silakan. Apapun yang kita minati adalah pilihan. Jangan pedulikan cemoohan orang dan cibiran orang. Kerjakanlah dengan kesungguhan hati untuk sebuah karya terbaik.  Hanya dengan kesungguhan, sebuah masterpiece dapat diwujudkan. Kesungguhan adalah kunci pembuka kesuksesan.

Kita harus memiliki sikap fokus. Dengan fokus pada satu titik, energi yang ada dapat disalurkan ke arah yang tepat. Dengan begitu, impian yang diidam-idamkan pun akan lebih cepat diraih. Dalam kehidupan ini, kita seringkali dihadapkan pada banyak godaan yang menggoyahkan fokus kita. Di situlah kekuatan hati kita diuji. Sekali kita goyah, maka fokus pun bergeser. Impian pun akan mulai melambat untuk diraih.

Bisa ditebak, andai Thomas Alfa Edison tidak fokus pada satu pekerjaan, rasanya tidak akan ada karya yang bisa kita nikmati saat ini. Terbayang, jika fokusnya goyah, sebelum berhasil dengan satu penelitiannya, dia akan beralih pada penelitian yang lain.

Jika seorang Thomas Alfa Edison saja bisa menghasilkan karya yang mengagumkan, lalu kenapa kita tidak bisa? Bukankah potensi diri, waktu, dan kesempatan yang diberikan Allah sama? Bukankah kita seharusnya tergugah untuk berkarya lebih baik bagi kehidupan ini?

Spirit untuk menghasilkan karya terbaik ini sudah banyak diingatkan oleh Rasulullah Saw. Bahkan, Allah pun telah memberikan peringatan melalui firman-Nya, tentang etos kerja dalam surah Al-Insyirah. Surah yang begitu pendek ini, tapi begitu dahsyat maknanya. “Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.”

Artinya, dalam upaya menghasilkan suatu karya, kita akan dihadapkan pada tantangan-tantangan yang tidak mudah diselesaikan. Kita hanya mampu menghadapinya dengan memaksimalkan kekuatan diri. Itulah yang disebut dengan fokus. Pelajaran berharga lainnya dari surah Al-Insyirah adalah manajemen waktu. “Apabila Engkau selesai dengan satu urusan, segeralah beranjak pada urusan yang lain.”

Setelah menghasilkan suatu karya, barulah kita beranjak untuk berkarya yang lain. Jangan puas dan berhenti pada karya sebelumnya saja. Melangkah terus untuk menghasilkan karya sehingga tidak ada kata berhenti untuk berkarya.

Berkaryalah. Jangan pikirkan hasilnya. Biarlah nanti hasilnya terwujud dengan sendirinya. Teruslah berkarya dan rasakanlah perbedaan di setiap karya yang kita buat. Beberapa waktu ke depan, tanpa diminta, nilai itu akan datang dengan sendirinya, apakah itu kehormatan ataupun pujian.

Akan tetapi, selalu ingatkan diri. Jangan berkarya karena gila hormat atau pujian. Berkaryalah karena itu layak dilakukan. Soal kehormatan, pujian, popularitas, ataupun hadiah, anggaplah itu fadilah dari Allah atas karya kita.