Notification

×

Iklan

Iklan

Kesabaran Bukan Bermakna Pasif, Aktiflah Bertindak

Senin, Juni 14, 2021 | 11:05 WIB Last Updated 2021-09-03T14:14:39Z

Kesabaran ialah proses aktif dalam menghadapi masalah yang membelit kehidupan kita. Setiap potensi diri menjadi aktif tatkala kita mampu bersabar.

Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik kita menjadi berfungsi bersama-sama hingga akhirnya masalah dapat dikalahkan. Tak heran, apabila Allah menjanjikan surga bagi orang yang mampu bersabar dengan penderitaan tatkala masalah mengimpitnya.

Makna kesabaran, tidak hanya berarti pasrah sumerah pada keadaan saja. Akan tetapi, lebih dari itu, yakni menghidupkan semangat untuk keluar dari keadaan yang menyusahkannya.

Yakin atas kemampuan diri untuk keluar dari ragam musibah juga, merupakan tonggak penting untuk melahirkan kesabaran aktif. Selain dirinya yakin atas pertolongan Allah, tidak serta berpangku tangan menon-aktifkan diri dari segala upaya.

Allah Swt. berfirman, “……maka perkokohlah (berteguh hati) dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Anfal [8]: 45).

Semoga kita tergolong orang-orang yang sabar, sebab Allah berserta orang-orang yang sabar ketika dirinya berada diambang penderitaan.

Terma Al-shabru, ialah kerangka ketabahan jiwa yang menyertakan optimalisasi perbuatan aktif, sehingga terjadi perubahan di dalam kehidupan. Orang yang selalu sabar ketika musibah menerpa kehidupannya dan kemenderitaan mengerangkeng jiwanya; ia mampu melewatinya dengan mulus.

Dengan demikian, lahirlah ketenangan hidup yang berkualitas sehingga ia kembali aktif menjalani kehidupan. Dan, di akhirat kelak, Allah menjanjikan surga kepadanya.

Firman-Nya, “(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24).