Notification

×

Iklan

Iklan

Sedih Menimpa? Hiburlah dengan Shalat

Senin, Mei 03, 2021 | 21:23 WIB Last Updated 2021-10-24T14:58:01Z


Kita pasti pernah merasa sedih. Misalnya, ketika kebutuhan dan keinginan tidak bisa diperoleh, kita kerap kecewa dan sedih karena merasa takdir tidak berpihak pada kita. Tak heran jika seorang musisi terkenal negeri ini, Iwan Fals, mengatakan bahwa keinginan adalah sumber penderitaan. Ini akan terjadi jika kita tidak memiliki pijakan yang kuat dan kokoh–aturan agama–dalam hidup ini.


Kalau kita mengaku mukmin, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan tidak hanya diupayakan sendiri namun dibarengi dengan keimanan pada Allah Swt. Allah adalah Zat Yang Maha Penolong, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Allah akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang memohon dan meminta.


Ibadah shalat yang kita dirikan tak hanya menjalin kedekatan dengan Allah, tetapi juga sebagai wasilah agar segala keinginan kita terwujud. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah Swt., memberi jaminan bagi orang yang menunaikan shalat secara tulus dan ikhlas berupa rasa tenang dan damai.


Ibadah shalat bukan saja ditetapkan pada orang-orang yang ingin kebutuhan dan keinginannya terpenuhi, tetapi juga diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang menderita, sedih, dan gundah jiwa. Allah Swt., berfirman, “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah karena sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir.” (QS Yusuf [12]: 87).


Dalam ayat tersebut, orang yang berputus asa dikategorikan sebagai orang kufur. Orang kufur bukanlah orang yang berbeda agama dengan kita, melainkan orang yang menolak dan membelakangi kekuasaan Allah.


Jadi, sebagai mukmin sejati, ketika kesedihan menerpa hidup, kita harus selalu berusaha mendekati Tuhan. Seorang mukmin tidak akan merasa lelah untuk beribadah kepada Allah.


Bukankah Nabi Muhammad saw., juga tidak merasa dalam lelah melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah? Beliau sudah dijamin masuk surga, tetapi tidak lantas ujub dan takabur dengan jaminan itu.


Namun, kita, manusia biasa yang belum mendapat jaminan-Nya, kadang malas melaksanakan ibadah shalat. Ini sangat mungkin terjadi karena kita memiliki kadar keimanan yang berbeda dengan Rasulullah saw.


Di dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ibadah shalat adalah sebentuk kesenangan atau hiburan bagi seorang Nabi karena dengan shalat persoalan hidup akan mendapatkan solusi yang menenangkan hati. Sayyidina Ali karamallahuwajh bertanya kepada Rasulullah saw., tentang pribadinya. Rasulullah saw., menjawab, “Kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaiku, dan hiburanku adalah shalat.” 


Mari kita merenung. Sudahkah kita menempatkan shalat sebagai hiburan jiwa? Ketika kita kecapaian akibat bekerja seharian dan putus asa akibat beban hidup, apakah kita menghibur diri dengan shalat atau dengan berhura-hura? Seorang eksekutif muda menghabiskan uang sebesar Rp3–5 juta per malam hanya untuk mengusir stres.


Seorang pejabat pemerintahan berlaku korup karena ingin hidup nyaman. Parahnya lagi, tak sedikit orang menghabiskan uang mereka untuk mengobati hati dari rasa bosan dengan cara clubbing. Artinya, gaji yang besar justru dapat menggusur seseorang pada kegelisahan yang terus-menerus kalau di dalam dirinya tidak tertanam ketaatan dan kesungguhan menunaikan shalat dengan baik. Bagi orang mukmin, ibadah shalat adalah hiburan yang tak perlu mengeluarkan uang.


Hiburan yang sangat murah meriah. Ketika kita sedang putus asa, sedih, dan tak bersemangat, shalat dapat mengubah jiwa kita menjadi optimistis, gembira, dan bersemangat. Hal ini bisa terjadi karena shalat adalah bentuk doa dan zikir yang kalau dibiasakan akan membuat hati kita tenteram dan tenang.


Secara etimologis, makna doa dan zikir ialah mengingat. Kita akan mengingat kekuasaan Allah ketika diterpa permasalahan hidup. Dengan demikian, orang-orang yang selalu melaksanakan ibadah shalat akan mendapatkan pencerahan dalam hidup mereka karena disinari oleh cahaya Allah.


Allah memerintahkan shalat kepada umat Islam untuk kebaikan dan keselamatan sehingga dapat tetap bersemangat di tengah urusan yang melelahkan. Ketika segala kebutuhan kita tidak terpenuhi, kerap muncul kegelisahan dan kegundahan. Sebagai seorang mukmin, kegelisahan dan kegundahan itu tidak pantas diobati dengan pergi berhura-hura. 


Imam Al-Ghazali, pengarang kitab Ihya Ulumuddin, mengatakan bahwa seorang hamba yang beriman tidak pantas berputus asa, namun perlu merangkai harapan (raja’) karena Allah Swt., berkuasa atas segala sesuatu. Shalat adalah bentuk komunikasi dengan-Nya.


Di dalam shalat ada semacam pengaduan dan sikap pasrah terhadap setiap peristiwa yang terjadi: sedih dan senang. Dengan shalat, kesadaran kita akan terbuka.


Sebagai manusia, kita tentu tidak terlepas dari keinginan duniawi. Akan tetapi, kita kerap terhanyut dan kecewa ketika keinginan itu tidak terlaksana. Nah, dengan rajin melaksanakan shalat, kita akan bersemangat untuk bekerja keras mewujudkan keinginan menjadi nyata.


Kalaupun keinginan itu tidak terwujud juga, kita akan menyerahkannya kepada Allah Swt. Kadangkala keberhasilan mewujudkan keinginan hadir ketika kita hampir putus asa, hampir blank of mind, hampir kecewa dan marah atas keadilan Tuhan. Sangat betul yang dikatakan Imam Al-Ghazali bahwa batas antara khauf (takut) dan raja’ (pengharapan) begitu tipis.


Ketika kita telah berusaha keras tetap tetap sulit mewujudkan keinginan, lalu suatu saat apa yang kita inginkan itu terwujud, rasanya seperti keajaiban (miracle). Dalam bahasa lain, setelah terus-menerus berikhtiar tetapi tidak terwujud, dengan kesabaran akhirnya keinginan itu ada di hadapan kita. Inilah yang disebut sabar dan ujung dari puncak kesabaran adalah tawakal kepada Allah.