Notification

×

Iklan

Iklan

Hati Nurani Alat Ukur Kebaikan

Sabtu, Mei 15, 2021 | 04:34 WIB Last Updated 2021-05-14T21:34:21Z

Setiap kali kita berbuat sesuatu, jangan tanyakan orang lain, tapi tanyalah hati sendiri! Hati nurani tidak akan bisa membohongi diri sendiri. Sejahat-jahatnya manusia, hatinya tidak akan pernah bisa berbohong. Jadi, sesungguhnya setiap manusia tahu, apakah perbuatan yang dilakukannya itu baik ataukah buruk.

Begitu pula saat kita menanyakan pada diri kita sendiri mengenai seberapa pantas perbuatan kita mendapat balasan. Hati nurani tahu. Hati nurani akan menjawab bahwa balasan yang pantas kita terima sesuai dengan kualitas perbuatan tersebut.

Jadi, beramal bukan perkara kuantitas pahala yang diharapkan dan kuantitas dosa yang ditakuti, namun tentang kualitas perbuatan yang dilakukan. Semakin baik kualitasnya, maka balasan yang diberikan Allah pun akan setimpal, adil, dan tidak akan pernah berkurang.

Nah, jadilah kafaa binafsika -- Cukup oleh dirimu saja mengukur kualitas amal itu. Jika masih jauh dari berkualitas, cobalah mulai dari sekarang. Jika merasa masih kurang, tingkatkan. Jika merasa telah berkualitas, jangan pernah merasa cukup dan puas.

Jika kita telah bisa mengukur kualitas itu, maka kita tahu bahwa amal perbuatan kita sejatinya hanya ditentukan oleh diri kita sendiri. Jangan pernah menuding pihak lain saat kita terjerembab dalam perbuatan buruk, dosa, dan maksiat.

Setiap kali memasuki bulan Februari setiap tahunnya, sebagian di antara kita pasti ada yang merasakan sesuatu yang spesial. Di pekan kedua bulan tersebut, ada sebuah peringatan yang biasa dirayakan oleh muda-mudi yang tengah dirundung cinta. Ya, pasti tidak asing dengan hari Valentine. Perayaan ini adalah sesuatu yang lumrah.

Di televisi banyak acara khusus edisi Valentine yang dihiasi dengan kisah cinta. Ada cowok yang “nembak” gebetannya di hari spesial. Ada yang jadian. Ada yang tunangan. Ada pula yang menikah. Semua akan merasa bahagia karena momen tersebut bertepatan dengan hari Valentine.

Belum lagi pusat perbelanjaan, mal, kafe, dan pusat hiburan lainnya, merasa tidak mau kalah untuk ikut merayakan hari kasih sayang ini. Beragam diskon ditawarkan. Aneka promosi dijajal. Tujuannya, agar pasangan yang sedang merayakan “hari raya”-nya bisa memperoleh kebahagiaan.

Perayaan yang tidak pernah tercatat dalam sejarah Islam ini pun hanya menjadi ajang merayakan pergaulan bebas. Banyak pasangan muda, remaja, bahkan masih anak-anak, terdorong untuk melakukan seks bebas dan hubungan berisiko. Mengikuti hawa nafsu demi sebuah tren. Tak mau belajar demi hanya disebut kekinian.

Itulah fenomena yang sangat lumrah di dalam kehidupan kita saat ini. Saat tergelincir dalam hawa nafsu, masihkah kita akan menyalahkan setan sebagai satu-satunya biang kerok dari perbuatan buruk yang kita lakukan? Jika hati nurani telah berkata bahwa itu keliru, kita tinggal menggerakkan tubuh kita untuk tidak melakukannya. Ikuti kata hati.

Perbuatan baik akan memberikan kebaikan. Maka, kerjakanlah. Sebaliknya, perbuatan buruk hanya memberikan keburukan. Maka, tinggalkanlah.

Jika siap mendapatkan keburukan, baik sekarang maupun di hari yang akan datang, silakan hiduplah semaunya. Jika tubuh kita merasa kuat atas semua tempaan, termasuk siksa neraka, jangan hiraukan perintah Allah.

Itulah yang Allah katakan bahwa perbuatan manusia pada akhirnya akan kembali pada dirinya.