Notification

×

Iklan

Iklan

Energi Positif untuk Seorang Mukmin yang Konsisten Melaksanakan Shalat

Selasa, Desember 21, 2021 | 13:31 WIB Last Updated 2022-01-06T11:49:45Z


Akal, rasio, atau pikiran merupakan faktor yang memengaruhi perbuatan seseorang: baik atau buruk. Seluruh aktivitas manusia akan bernilai jika di dalam dirinya terhunjam keinginan positif. Keinginan seorang manusia tak lepas dari konstruksi pikiran yang dibentuk oleh lingkungan sekitar.


Apabila seorang anak terus dididik untuk melakukan kekerasan, misalnya, ia akan terbentuk menjadi pribadi yang keras dan kasar. Akhirnya, keinginan-keinginan yang lahir darinya adalah keinginan negatif, buruk, dan destruktif. Jangan heran jika di masa mendatang mereka memiliki kekayaan dan kekuasaan, mereka akan menampakkan tindakan yang buruk dan merusak.


Di negeri kita, Indonesia, banyak sekali orang yang memiliki keinginan negatif. Mereka adalah para pejabat korup, pengusaha pelit, dan orang berharta yang meminjamkan uang dengan bunga mencekik. Pikiran mereka tidak dipenuhi kebajikan, kasih sayang, kepedulian, dan kebijaksanaan.


Akibatnya, seluruh aktivitas hidup tidak dijadikan medium untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Sang Pemberi kehidupan, Allah Swt. Mereka dijajah kebutuhan material yang sebetulnya tidak akan memuaskan keinginan. Dalam teori law of attraction dijelaskan bahwa ketika kita memiliki keinginan―rumah mewah, mobil, dan sebagainya―visualisasikanlah keinginan tersebut.


Semua keinginan itu akan jadi kenyataan. Dengan kata lain, pikiran menarik materi keinginan seperti magnet menarik benda-benda. Dengan teori ini, kita boleh memiliki keinginan menjadi kaya seperti Bill Gates. Cukup berkeinginan, visualisasi, dan percaya, maka kita telah menjadi Bill Gates. Begitulah menurut pakar manajemen spiritual di negeri Barat.


Akan tetapi, metode ini memiliki kekurangan. Di alam realitas, visualisasi tak nyata adalah kesia-siaan. Dalam kegiatan rohaniah, metode seperti ini tidak cocok digunakan karena boleh jadi kita berpikir tentang surga, memvisualisasikannya, kemudian tidak pernah shalat sama sekali.


Ibadah shalat dilaksanakan untuk terus melanggengkan keinginan-keinginan positif dalam pikiran sehingga dapat membentuk amal perbuatan yang positif. Ibadah shalat ini bagaikan rem yang berfungsi menahan diri dari nafsu keserakahan duniawi.

 

Allah Swt., berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf [7]: 31).


Bagi orang yang melaksanakan shalat secara tulus dan ikhlas, keinginan-keinginan itu tidak lantas berlebihan. Ketika mencapai kesuksesan material, ia tidak mengisi kehidupan dengan pesta pora tetapi mencoba berbagi kesuksesan dengan para fakir, miskin, dan orang yang tertindas.


Itulah efek sosial shalat bagi orang yang bisa mengarahkan keinginannya menjadi amal perbuatan yang positif. Muhammad Yunus, sang penerima Nobel Perdamaian 2007, misalnya, telah mencapai tahap manusia yang bisa mengelola keinginannya ke arah yang lebih positif.


Secara tulus dan ikhlas ia berbagi dengan warga miskin agar mereka dapat mengoptimalkan potensi ekonomi. Sekitar enam juta warga Bangladesh menjadi berdaya berkat amal perbuatan positif Muhammad Yunus. Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia, pun mengelola keinginan positif untuk melahirkan amal perbuatan positif. Ia kini bergelut di bidang pemberdayaan masyarakat tertinggal.


Semakin kaya dan semakin sukses seseorang, maka ia semakin merasa bahwa kesuksesannya harus dibagikan dengan orang banyak.


Itulah keinginan berlandaskan pikiran positif yang dibentuk moralitas, energi, dan pikiran murni. Energi hidup orang-orang seperti itu adalah energi semangat menggebu untuk terus memberikan makna hidup bagi sesama. Seharusnya, orang yang selalu menjaga waktu untuk melaksanakan shalat dapat melahirkan amal seperti yang dilakukan Muhammad Yunus dan Bill Gates.


Pikiran kita harus dipenuhi dengan energi positif sehingga dapat mengubah lingkungan sekitar. Di dalam ibadah shalat terkandung nilai-nilai positif yang bisa kita simpan dalam diri untuk membentuk pikiran dan amal perbuatan. Hidup akan terus-menerus diarahkan menjadi sebuah kebaikan.


Namun, kadang-kadang kita terjebak dalam keinginan semu. Ketika Allah Swt., memberikannya kepada kita, kita tidak dapat menggunakannya untuk sesuatu yang positif. Keinginan dalam diri akan menciptakan pengalaman, kemurnian pikiran, dan semangat yang berlimpah karena usaha yang kita lakukan.


Dengan keinginan positif dan ritual berupa shalat (memohon kepada-Nya), kita harus siap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi: dikabulkan atau tidak dikabulkan. Dengan kesiapan mental ini, ketika keinginan tidak terwujud, kita mampu melihatnya secara positif. Kita tidak akan larut dalam kegelisahan, kekecewaan, dan kenestapaan jiwa yang membahayakan.


Ketangguhan mental seperti itu lahir dari pikiran dan emosi positif. Seperti yang dijelaskan psikolog, pikiran dipengaruhi emosi positif dan negatif. Dua emosi ini berfungsi mengarahkan seseorang untuk melakukan tindakan. Emosi yang negatif akan menimbulkan rasa marah, kecewa, dan benci sehingga mendorong orang pada kegelisahan hidup.


Shalat adalah jalan yang tepat untuk memurnikan pikiran dan emosi ke arah yang positif sehingga dapat meningkatkan energi hidup. Ibadah shalat juga akan menjadi hiburan ketika diri kita resah dan gelisah karena mengharapkan sesuatu dalam hidup ini.


Karena itu, dengan rajin menunaikan shalat, emosi yang terbentuk dalam jiwa kita ialah emosi positif, baik, dan selalu mencerminakan ketangguhan pribadi tatkala ditimpa masalah dalam hidup keseharian.


Dengan demikian, kita akan mampu merekayasa jiwa menuju sebuah mental yang sehat dan berbahagia kendati segala masalah menimpa.