Notification

×

Iklan

Iklan

Blusukan Umar Bin Khaththab

Senin, Mei 03, 2021 | 06:38 WIB Last Updated 2021-05-02T23:38:45Z

Sebagai khalifah, hidup Umar Bin Khaththab benar-benar diabdikan untuk menggapai ridho Allah. Di malam hari ia biasa berkeliling kampung, melakukan investigasi, sidak atau "blusukan" untuk mengetahui keadaan rakyat jelata sebenarnya.

Suatu malam, Umar menemukan sebuah gubuk kecil yang dari dalamnya terdengar nyaring isak tangis anak-anak. Ia pun mendekati dan memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Di sana, ia melihat seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya.

Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali sang anak menangis, ibu itu berkata, “Tunggulah sayang..., sebentar lagi makanannya akan matang”.

Selagi Umar memperhatikan keluarga itu dari luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya. Umar menjadi penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, Umar pun memasuki gubuk tersebut.

“Mengapa anak-anak ibu tidak berhenti menangis?” Umar bertanya.

“Itu karena mereka sangat lapar,” demikian sang ibu mengaku.

“Mengapa tidak ibu berikan makanan yang sedang ibu masak sedari tadi?” Umar bertanya lagi.

“Tiada makanan. Periuk yang kumasak sedari tadi hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anakku. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk ini berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur,” sang ibu membuka rahasia.

“Apakah ibu sering berbuat begini?” Umar bertanya penuh rasa penasaran.

“Ya. Saya adalah seorang janda dan sudah tidak memiliki keluarga tempat bergantung. Saya hidup sebatang kara,” jawab sang ibu dengan nada datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.

“Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah, sehingga beliau dapat menolong ibu beserta anak-anak ibu dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Tentu hal itu akan sangat membantu kehidupan ibu dan anak-anak,” Umar menasihati.

“Khalifah telah berbuat dzalim kepadaku,” sang ibu menghentakkan hati sang Khalifah yang tidak diketahuinya.

“Mengapa bisa begitu?” tanya sang Khalifah ingin tahu.

“Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya, ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib denganku,” jawab sang ibu yang menyentuh hati Umar.

Seketika itu juga Umar berdiri, lalu berujar, “Tunggu sebentar, Bu. Aku akan segera kembali.”

Pada malam yang larut itu, Umar bergegas kembali ke Madinah menuju Baitul Mal. Umar segera mengangkut sekarung gandum yang besar di pundaknya. Abbas, sahabatnya, membantu membawa minyak samin untuk memasak.

Jarak antara Madinah dengan gubuk tersebut yang jauh, membuat keringat bercucuran dari tubuh sang Khalifah. Abbas pun berniat membantu Umar mengangkut karung tersebut. Dengan tegas Umar menolak tawaran Abbas.

Dengan napas tersengal-sengal Umar berkata, “Tidak akan kubiarkan dirimu membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku membawa karung besar ini karena aku merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada mereka.”

Maka, tatkala Khalifah menyerahkan sekarung gandum yang besar kepada ibu dan anak-anaknya yang miskin, bukan main gembiranya mereka menerima bahan makanan dari lelaki yang tak dikenalnya.

Kemudian lelaki itu menganjurkan sang ibu untuk menemui Khalifah esok hari, untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.

Betapa terkejutnya sang ibu, saat keesokan harinya ia berkunjung ke Madinah. Ternyata, lelaki yang tak dikenalnya itu, yang telah membantunya semalam, tak lain adalah Khalifah Umar sendiri!