Notification

×

Iklan

Iklan

Perang Uhud: Allah Selalu Melindungimu

Senin, Mei 03, 2021 | 07:12 WIB Last Updated 2021-05-03T00:12:07Z

Allah Swt., berfirman, “Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” [QS. Ali Imran (3): 150]. Ayat ini turun ketika dalam satu peperangan, Nabi Saw menempatkan satu pasukan pemanah di atas bukit. Pasukan pemanah ini dipimpin oleh Abdullah bin Zubair.

Nabi Saw memberikan pesan khusus kepada para pemanah agar tetap dalam posisinya dalam keadaan apapun. Bila pasukan mukminin berada dalam posisi menang janganlah turun bukit, maupun dalam posisi terdesak janganlah mereka turun untuk membantu. Tetap dalam posisi.

Sesaat ketika peperangan dimenangkan oleh pasukan mukminin, pasukan di medan peperangan berteriak ghanimah, ghanimah, ghanimah. Ghanimah adalah harta rampasan perang. Biasa dibagikan kepada pasukan yang ikut berjihad. Maka pasukan pemanah di atas bukit pun berlarian bersegera turun guna mendapat bagian.

Abdullah bin Zubair telah memperingatkan pasukan pemanah agar tetap dalam posisinya, tetapi tak dihiraukannya. Pasukan pemanah ketakutan tidak kebagian ghanimah.

Tiba-tiba pasukan kaum kafir melakukan serangan balik dengan pasukan yang lebih besar. Akibat ketidaktaatan itu masukan mukminin mengalami kekalahan, bahkan 70 pasukannya syahid. Pasukan mukminin yang awalnya dalam posisi menang akhirnya mengalami kekalahan di akhir peperangan.

Pasukan pemanah yang tidak memenuhi pesan Nabi Saw agar tetap dalam posisinya apapun keadaannya penyebab kekalahan mereka. Mereka takut tidak kebagian harta rampasan perang. Maka nampaklah orang-orang yang berperang berniat tulus karena Allah swt dan mengharap kebahagiaan akhirat da nada pun dari mereka yang berperang karena keinginan dunia.

Dalam peperangan itu, Nabi Saw terluka. Dua gigi gerahamnya tanggal. Demikian pula dengan sahabat-sahabat lainnya. Bahkan kaum kafir mengumumkan tewasnya Nabi dalam perang tersebut. Sejatinya, Nabi Saw tidak tewas, tetapi beliau memang terluka. Kekalahan perang Uhud ini diabadikan dalam QS Surat Ali Imran dari ayat 149-153.

149. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

150. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.

151. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.

152. Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.

153. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Ali Imran (3): 149-153].

Dari peristiwa perang Uhud dan ayat tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan.

Pertama, di ayat 149 ditegaskan bila seseorang yang telah beriman dan mengikuti kehendak orang kafir kembali dalam kekafiran maka ia termasuk dalam kategori orang yang merugi. Memegang teguh keimanan dalam diri merupakan sebuah rejeki yang sangat besar.

Di setiap awal khutbah jumat, khatib mewanti-wanti jamaahnya agar tetap berada dalam keimanan, sebab rugilah orang yang setelah beriman dan kembali kepada kekafiran. Keimanan bukan untuk dipermainkan, ketika sudah beriman kembali kekafiran demi kehidupan dunia. Lalu kembali beriman karena mengikuti teman, sahabat, kerabat atau keluarga, lalu kembali kepada kekafiran. Itu sungguh-sungguh mempermainkan keimanan.

Bahkan mereka yang sudah beriman pun belum tentu otomatis masuk surga. Allah Swt akan menguji keimanan seseorang. Bila lulus, maka Allah Swt akan mengujinya kembali untuk meningkatkan derajat ketakwaannya. Allah Swt terus akan menguji keimanan seorang mukmin. setiap kali lolos maka aka nada ujian lagi. Bila tidak lolos maka ia akan turun derajat keimanannya. Maka ia harus kembali meningkatkannya.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [QS. Al Ankabut (29): 2-3].

Kedua, ketaatan kepada perintah Allah Swt dan RasulNya. Bila saja pasukan pemanah tetap di posisinya dan tidak tergoda dengan harta rampasan perang maka akhir cerita perang Uhud itu akan berbeda. Hanya orang-orang yang benar-benar memegang keimanan sebenar-benarnya yang sanggup tetap dalam barisan.

Mereka tidak tergoda oleh kenikmatan semua dunia dan hanya berharap kebahagiaan di akhirat kelak. Sebab, bila akhirat yang dikejarnya maka dunia dan akhirat akan didapatnya. Sebaliknya, bila ia mengejar dunia, maka dunia bisa ia dapatkan, sementara akhirat ia kehilangan.

Ketaatan seorang mukmin pada Allah Swt dan RasulNya ditunjukkan dengan dilaksanakannya segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Ketaatan dilahirkan dari ketulusan dalam beriman. Ketakwaan merupakan aplikasi langsung dari keimanan. Ketakwaan dan keimanan tidak bisa dipisahkan. Barangsiapa beriman maka ia mesti bertakwa.

Ketiga, kenikmatan dunia memang menggoda. Bahkan mereka yang telah beriman pun tak sedikit yang terjerumus dalam lembah kenikmatan duniawiyah dan melupakan, kalau tidak dibilang meninggalkan kenikmatan sejati di akhirat kelak. Pasukan pemanah yang berlomba-lomba turun bukit dan berebut mendapatkan ghanimah sejatinya terbutakan oleh harta.

Padahal, mereka bukan pertama kali berperang. Sudah beberapa kali berperang dan mendapatkan kemenangan besar pada perang badar. Pembagian ghanimah pun lancar. Ketakutan akan tidak kebagian menyebabkan mereka berebut.

Padahal, gemerlapnya kenikmatan dunia terkadang menyesatkan. Bagi mereka yang tidak memiliki iman yang kuat akan mudah tergoda. Di sisi lain, Allah Swt memberikan rejeki kepada seluruh makhluknya. Tidak peduli apakah makhluk itu taat atau ingkar kepadaNya.

Itu sebagai bentuk kemaharahmahan Allah. Sementara, ada saja diantara mereka yang menyalahgunakan kenikmatan dunia. Kenikmatan yang diberikan Allah Swt itu dianggapnya sebagai usahanya semata. Tak ada campur tangan Tuhan di sana. Sejatinya, rejeki seperti itu bisa jadi merupakan ujian dan azab. Bila mereka terlena dengan kenikmatan itu maka ia akan masuk neraka.