Ada satu kalimat dalam Al-Qur'an yang sering kita baca, tapi jarang kita tanyai. *Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala.* Agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. (Al-Mulk: 2)
Perhatikan apa yang tidak ada di sana. Tidak ada kata *siapa yang paling kuat*. Tidak ada kata *siapa yang paling tidak pernah menangis*. Tidak ada kata *siapa yang paling cepat sembuh*.
Yang dicari adalah yang terbaik amalnya. Bukan yang paling baik-baik saja.
Kita sering salah paham soal ini. Anak-anak remaja kita tumbuh dengan kesimpulan diam-diam: kalau aku merasa hancur, berarti aku gagal dalam ujian. Kalau aku cemas, berarti imanku tipis. Kalau aku tidak sanggup bangun pagi, berarti aku lemah, dan kelemahan itu dosa. Maka mereka belajar satu keahlian yang paling berbahaya: berpura-pura.
Padahal coba lihat lagi daftar ujian itu.
Ada ujian yang bernama *perhiasan bumi*. Allah berfirman bahwa Dia menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan, agar Dia menguji siapa yang terbaik amalnya (Al-Kahfi: 7). Ujian itu berupa sesuatu yang berkilau. Hari ini, kilaunya ada di layar setiap anak kita. Wajah yang dipoles, tubuh yang disaring, pencapaian yang dipajang. Mereka diuji bukan hanya oleh kesulitan, tetapi oleh kilau hidup orang lain yang tidak pernah berhenti menyala.
Ada ujian yang bernama *perbedaan*. Allah meninggikan sebagian kita atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kita pada apa yang diberikan-Nya (Al-An'am: 165). Ada yang lahir cerdas, ada yang lahir dengan hati yang mudah remuk. Ada yang tumbuh di rumah yang hangat, ada yang tumbuh di rumah yang ramai tapi sunyi. Perbedaan itu bukan vonis. Ia ujian, dan ujian itu berlaku bagi semua pihak: yang diberi lebih, dan yang melihat orang lain diberi lebih.
Lalu ada ujian yang paling sunyi, yaitu *manusia diuji dengan manusia*. Allah menguji sebagian dengan sebagian yang lain (Muhammad: 4). Teman yang menjauh. Orang tua yang terlalu sibuk. Guru yang tidak melihat. Kita ini saling menjadi ujian, dan sering kali tanpa sadar.
Maka pertanyaannya bukan lagi *kenapa aku diuji?* Pertanyaan yang lebih jujur adalah: *ujian ini sedang menyingkap apa?*
Di sini ayat-ayat itu menyimpan sesuatu yang lembut. Setelah kekalahan di Uhud, Allah mengatakan Dia menguji kaum beriman, dan ayat itu ditutup dengan ampunan (Ali 'Imran: 152). Di ayat berikutnya, ujian disandingkan dengan pemurnian (Ali 'Imran: 154). Ujian dalam Al-Qur'an tidak berakhir sebagai tuduhan. Ia berakhir sebagai proses. Orang yang jatuh di Uhud tidak dicap pecundang. Mereka dimaafkan, lalu diajak berdiri lagi.
Seandainya anak-anak kita tahu itu, betapa ringan dada mereka.
Tetapi ada hal yang perlu dikatakan dengan hati-hati, karena ini penting. Memahami ibtila' tidak boleh membuat kita berkata kepada seorang anak yang sedang runtuh: *sabar saja, ini ujian.* Kalimat itu, diucapkan terlalu cepat, bisa menjadi pintu yang ditutup. Anak itu mendengar: *jangan ceritakan lagi.* Padahal Al-Qur'an sendiri tidak pernah memerintahkan kita untuk berpura-pura kuat. Ia berkata, *janganlah kamu lemah dan janganlah kamu bersedih hati* (Ali 'Imran: 139), tetapi ayat itu turun untuk orang-orang yang sedang terluka, kepada mereka yang baru saja kalah. Ia bukan perintah untuk berhenti merasa. Ia tangan yang terulur kepada orang yang sedang jatuh.
Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukan lawan dari iman. Mencari konselor, psikolog, atau dokter ketika pikiran terlalu gelap bukan tanda kurang tawakal. Orang yang sakit pergi berobat, dan hati yang sakit pun berhak atas hal yang sama. Dan bila seorang remaja mulai berpikir untuk menyakiti dirinya, itu bukan lagi urusan "kuatkan imanmu". Itu saatnya orang dewasa di sekelilingnya bergerak, mendengarkan, dan membawanya kepada pertolongan profesional, malam itu juga bila perlu.
Jadi apa arti *ahsanu 'amala* bagi anak yang sedang berjuang? Barangkali artinya sangat kecil. Hari ini aku mau mandi. Hari ini aku mau menjawab pesan satu orang yang kupercaya. Hari ini aku berani bilang, "aku sedang tidak baik-baik saja." Itu amal. Dan sepanjang yang kita pahami, Allah tidak mengukur amal dengan ukuran yang membuat orang menyerah. Dia mengukur kualitas, bukan kehebatan yang dipamerkan.
Dan untuk kita, orang dewasa yang membaca ini, ada ujian yang diam-diam juga ditujukan kepada kita. Anak-anak ini adalah *pemberian*, dan pemberian adalah ujian (Al-An'am: 165). Apakah kita menjadi tempat pulang atau tempat takut? Apakah kita mendengar sampai habis, atau menyela dengan nasihat?
Barangkali itulah rahasianya. Di antara dua jiwa yang saling diuji, ada ruang untuk saling menyelamatkan.(Adhi)
*Catatan: rujukan ayat dan tafsir di atas saya tulis dari ingatan, jadi cocokkan dulu ke mushaf. Esai ini bukan pengganti bantuan profesional. Bila ada remaja di sekitar Anda yang menunjukkan tanda-tanda krisis, dampingi dan hubungkan dengan psikolog, konselor, atau layanan kesehatan jiwa setempat.*