-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Siksa Alam Kubur Itu Sangat Pedih! Ini Dalilnya

03 Agustus 2026 | 10:02 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-03T03:02:37Z


Kita
semua pasti akan mati, sebab tubuh dan nyawa kita tidak abadi. Kematian harus kita yakini sebagai awal mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan di muka bumi. Nah, karena kita tidak abadi, dan pasti akan mati; perlu diketahui bahwa ada beberapa tahap kehidupan pasca kematian jasad kita.  

Salah satunya ialah keberadaan alam kubur, yang akan kita lewati setelah kematian. Di alam kubur ini, jasad kita dibaringkan dan akan diajukan pertanyaan oleh malaikat Mungkar dan Nakir untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan kita selama di dunia.

Apabila amal baik kita banyak, maka kita akan lancar dan selamat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Malaikat, sehingga kita akan selamat dari siksa kubur. Akan tetapi, bila selama di dunia amal kita jelek dan buruk, kita tidak akan mampu menjawab setiap pertanyaan dari Malaikat Mungkar dan Nakir, sehingga akan mendapatkan siksa kubur yang pedih.

Secara bahasa, kata kubur berarti menanam atau memendam sesuatu. Jadi, proses menguburkan jenazah bukan semata-mata menguburkan karena jasad itu tidak berguna atau bisa menimbulkan kemadharatan seperti bau menyengat dan penyakit, tapi juga dipendam seperti kita menanam suatu benih. Mengubur artinya menanam agar suatu saat nanti akan dihidupkan kembali oleh Sang Khalik, Allah Swt.

Dengan demikian, menguburkan jenazah adalah proses menuju alam baru yang harus dilewati, yaitu alam kubur untuk menunggu kita dibangkitkan kembali.

Dalam Islam, suatu hari nanti manusia yang ada di alam kubur akan dibangkitkan. Menurut dalil hadits yang shahih, pada hari kebangkitkan nanti (hari kiamat), jasad manusia yang sudah hancur lebur di dalam tanah, akan kembali diciptakan—dirakit ulang—dari tulang ekornya.

Rasulullah Saw., bersabda, “Tiada bagian dari tubuh manusia akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit (dibangkitkan) kembali pada hari kiamat.” (HR. Bukhari).

Ketika kita meninggalkan dunia ini, artinya kita sedang menuju tempas asal muasal kita diciptakan, dan mempertanggungjawabkan setiap laku, kata, dan sikap kita selama di dunia. Nah, sederhananya, alam kubur ialah sebuah tempat transit sementara untuk menunggu datangnya hari penghisaban dengan membawa catatan amal.

Lantas, kenapa disebut alam kubur?

Karena di alam kubur, kita akan memetik hasil — bukan memanen — dari amal perbuatan dan apa yang dulu pernah kita tanam ketika di alam dunia. Karena itu, seseorang yang berada di alam kubur ada yang mendapat siksa dan juga nikmat, sesuai amal perbuatannya. Bila amalnya baik, alam kubur akan terang benderang, indah, dan menghadirkan kebahagiaan; namun bila amalnya jelek, alam kuburnya akan begitu menakutkan, horor, gelap gulita dan mencekam.

Menurut M. Quraish Shihab, yang dimaksud alam kubur itu pada konteks siksa dan nikmat. Setelah manusia meninggal dunia, maka hal-hal yang bersifat fisik dari tubuhnya akan hancur. Tubuh atau jasad manusia itu diciptakan oleh Allah dari tanah, maka ke tanah pula jasad itu dikembalikan. Jika seseorang meninggal dunia, kewajiban bagi muslim yang masih hidup adalah menguburkan jasad tersebut ke dalam tanah.

Saat kita hidup, meninggal, dan berada di alam kubur, sebetulnya keluarga masih bisa memberikan penerangan kepada kita dengan cara mendoakan, memohon ampunan, dan meminta pertolongan dari Allah.  

Tetapi, kita harus ingat, bahwa setelah jasad berada di alam kubur, tidak ada satupun orang yang akan menemani, baik sanak family, kerabat, suami, isteri ataupun teman. Satu-satunya yang akan menemani kita di sana adalah amal perbuatan ketika di dunia.

Kita tidak bisa mengharapkan doa dari orang lain karena yang akan menerangi alam kubur kita, ialah amal perbuatan yang baik.

Tahukah bahwa jasad kita yang dikubur di dalam tanah akan mengalami pembusukan-pembusukan? Pembusukan ini dimulai sejak malam pertama hingga 25 tahun setelah kematian kita.

Perubahan jasad kita di alam kubur, bisa diuraikan sebagai berikut:

·         Malam Pertama: pada malam pertama kita berada di alam kubur, jasad mulai mengalami pembusukan di daerah perut dan kemaluan. Karena itu, agar selamat, kita harus menjaga perut agar tidak dimasuki barang haram, dan menjaga kemaluan supaya tersalurkan sesuai syariat Islam.

·         Malam Kedua: di malam ini, mulailah anggota-anggota tubuh yang lain membusuk seperti limpa, hati, paru-paru dan lambung.

·         Hari Ketiga: anggota-anggota tubuh itu mulai mengeluarkan bau busuk yang tidak sedap.

·         Seminggu Setelahnya: pada bagian wajah mulai tampak membengkak, juga dua mata, kedua lisan dan pipi. Jagalah mata dari memandang yang baik, jangan pernah menggunakannya untuk menyaksikan kemaksiatan; peliharalah lisan dengan perkataan baik, dan tetap menjaga agar selalu membasahi pipi dengan air wudhu.

·         Setelah 10 hari: masih tetap terjadi pembusukan, kali ini pada anggota-anggota tubuh seperti perut, lambung, dan limpa.

·         Setelah 2 Minggu: bagian mahkota atau rambut mulai rontok.

·         Setelah 15 Hari: lalat hijau mulai bisa mencium bau busuk dari jarak 5 kilometer, dan ulat-ulat pun mulai menutupi seluruh tubuh jasad.

·         Setelah 6 Bulan: yang tersisa hanya tinggal rangka tulang saja.

·         Setelah 25 Tahun: rangka tubuh kita akan berubah menjadi semacam biji, dan di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang sangat kecil disebut ajbudz dzanab (tulang ekor). Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat nanti.

Perlu ditekankan lagi bahwa tidak ada yang tahu di mana alam kubur yang sebenarnya selain Allah Swt. alam kubur itu bukan terletak di dalam tanah, tetapi hanya Allah yang Mha Mengetahui. Kita hanya wajib mengimani bahwa alam kubur, siksa dan nikmatnya itu ada.

Suatu ketika Rasulullah saw melewati salah satu tembok (kuburan) dari tembok-tembok kota Madinah dan beliau mendengar suara dua orang yang merintih. Rasulullah Saw. bersabda: “Keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang pertama tidak mencuci bersih bekas kencingnya dan yang kedua berjalan mengedarkan isu yang memecah belah.” Kemudian beliau meminta diambilkan dahan pohon kurma, lalu beliau belah dua dan meletakan pada masing-masing kubur. Beliau ditanya mengapa melakukan itu? Rasul Saw. menjawab: “Semoga ini meringankan siksa buat mereka selama dahan itu belum kering”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa siksa kubur dan nikmatnya itu benar-benar ada, yang tidak ada satupun orang yang bisa menghindarinya. Setiap manusia kelak di alam kubur akan mendapatkan kenikmatan dan juga siksa sesuai amal perbuatannya. Apakah siksa ataukah nikmat yang akan kita dapatkan, tergantung amal di dunia.

Satu hal lagi, selamatnya kita di alam kubur bergantung dari mampu atau tidaknya kita dalam menjawab berbagai pertanyaan Malaikat. Jika mampu melewati pertanyaan-pertanyaan dari Malaikat, selamatlah ia dan akan tenang di alam kuburnya.

Sebaliknya, jika tidak mampu menjawab, sekali lagi, siksa kuburlah ayang akan diterimanya. Ada banyak jenis siksa kubur, dan semuanya cukup mengerikan, horor, menakutkan, dan membuat bulu roma kita merinding.

Rasulullah Saw. bersabda, “Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Kita harus ingat bahwa siksa kubur tidak hanya menyiksa fisik atau lahir seseorang, melainkan batin dan perasan juga, karena “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (QS. Ghafir [40]: 46).

Tidak bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya batin dan perasaan seseorang jika diperlihatkan pada dirinya neraka yang akan menjadi tempatnya pada hari kemudian. Tidak peduli seberapa kokoh dan kuatnya fisik seseorang, jika batinnya tersiksa, penuh keputusasaan dan ketakutan, maka tak bergunalah raga yang gagah perkasa, bahkan harta dan kekuasaannya.

Kita harus yakin bahwa di alam kubur kita akan diperlihatkan calon tempat tinggal di akhirat. Hanya ada dua pilihan yang pasti, yaitu tempat yang indah (surga) atau tempat yang sangat mengerikan (neraka).

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini calon tempat tinggalmu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat...” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Siksa kubur yang berupa penyiksaan fisik atau batinpun ada beberapa macam. Kubur sendiri bisa menjadi tempat untuk menyiksa manusia. “Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu) Saad bin Muadz telah selamat.” (HR. Ahmad). Bahkan sempitnya kubur itu sampai bisa menghimpit tulang belulang, “…lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan…” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pendusta, ketidaktaatan kepada Allah, pezina, koruptor, muslimah yang tidak taat pada suaminya, atau suami yang menzalimi istrinya, menerima siksa kubur yang beragam. Allah Maha Adil akan semua perbuatan manusia. Hati dan seluruh anggota badan kita akan disiksa apabila berbuat dosa.

Mari kita renungkan satu riwayat yang agak panjang berikut tentang penggambaran keadaan alam kubur yang sangat mengerikan.

“Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari).

Di alam kubur juga sebagaimana diberitakan dalam riwayat sahih ada hewan-hewan ganas yang bertugas untuk menyiksa orang mati bahkan mencabik-cabiknya dengan sangat sadis. Hewan buas itu dengan kuasa Allah akan menerkam, mencakar, atau bahkan mencabik-cabit kita karena telah berbuat dosa.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim).

Ada kalanya siksa kubur diberikan karena kita tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dua Malaikat, yakni Munkar dan Nakir. Sebenarnya Munkar dan Nakir sendiri bisa menjadi siksaan karena untuk orang-orang yang berdosa wajah Munkar dan Nakir terlihat menyeramkan dan mengerikan. Namun, sebaliknya, apabila orang saleh melihat Malaikat Munkar dan Nakir, akan terlihat sebagai sosok yang indah dan menyenangkan pandangan mata.  

Inilah hadits yang menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang kelak akan diajukan oleh Malaikat Mungkar dan Nakir, di alam kubur. Ingat dan hafal, ya!

“Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Lalu penyeru dari langit berseru, “Hamba-Ku telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka." Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. (HR. Al-Jami).

×
Berita Terbaru Update