Kita semua pasti akan mati, sebab tubuh
dan nyawa kita tidak abadi. Kematian harus kita yakini sebagai awal
mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan di muka bumi. Nah, karena kita
tidak abadi, dan pasti akan mati; perlu diketahui bahwa ada beberapa tahap
kehidupan pasca kematian jasad kita.
Salah satunya ialah keberadaan alam kubur, yang akan kita lewati setelah
kematian. Di alam kubur ini,
jasad kita dibaringkan dan akan diajukan pertanyaan oleh malaikat Mungkar dan
Nakir untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan kita selama di dunia.
Apabila amal baik
kita banyak, maka kita akan lancar dan selamat menjawab setiap pertanyaan yang
diajukan oleh Malaikat, sehingga kita akan selamat dari siksa kubur. Akan tetapi, bila selama di dunia amal kita
jelek dan buruk, kita tidak akan mampu menjawab setiap pertanyaan dari Malaikat
Mungkar dan Nakir, sehingga akan mendapatkan siksa kubur yang pedih.
Secara bahasa, kata
kubur berarti menanam atau memendam sesuatu. Jadi, proses menguburkan
jenazah bukan semata-mata menguburkan karena jasad itu tidak berguna atau bisa
menimbulkan kemadharatan seperti bau menyengat dan penyakit, tapi juga dipendam
seperti kita menanam suatu benih. Mengubur artinya menanam agar suatu saat
nanti akan dihidupkan kembali oleh Sang Khalik, Allah Swt.
Dengan demikian,
menguburkan jenazah adalah proses menuju alam baru yang harus dilewati, yaitu
alam kubur untuk menunggu kita dibangkitkan kembali.
Dalam Islam,
suatu hari nanti manusia yang ada di alam kubur akan dibangkitkan. Menurut dalil
hadits yang shahih, pada hari kebangkitkan nanti (hari kiamat), jasad manusia
yang sudah hancur lebur di dalam tanah, akan kembali diciptakan—dirakit
ulang—dari tulang ekornya.
Rasulullah Saw.,
bersabda, “Tiada bagian dari tubuh manusia akan
hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia
dirakit (dibangkitkan) kembali pada hari kiamat.” (HR. Bukhari).
Ketika kita
meninggalkan dunia ini, artinya kita sedang menuju tempas asal muasal kita
diciptakan, dan mempertanggungjawabkan setiap laku, kata, dan sikap kita selama
di dunia. Nah, sederhananya, alam kubur ialah sebuah tempat transit sementara
untuk menunggu datangnya hari penghisaban dengan membawa catatan amal.
Lantas, kenapa
disebut alam kubur?
Karena di alam kubur,
kita akan memetik hasil — bukan memanen — dari amal perbuatan dan apa yang dulu
pernah kita tanam ketika di alam dunia. Karena itu, seseorang yang berada di
alam kubur ada yang mendapat siksa dan juga nikmat, sesuai amal perbuatannya. Bila
amalnya baik, alam kubur akan terang benderang, indah, dan menghadirkan
kebahagiaan; namun bila amalnya jelek, alam kuburnya akan begitu menakutkan,
horor, gelap gulita dan mencekam.
Menurut M. Quraish Shihab, yang
dimaksud alam kubur itu pada konteks siksa dan nikmat. Setelah manusia
meninggal dunia, maka hal-hal yang bersifat fisik dari tubuhnya akan hancur.
Tubuh atau jasad manusia itu diciptakan oleh Allah dari tanah, maka ke tanah
pula jasad itu dikembalikan. Jika seseorang meninggal dunia, kewajiban bagi
muslim yang masih hidup adalah menguburkan jasad tersebut ke dalam tanah.
Saat kita hidup,
meninggal, dan berada di alam kubur, sebetulnya keluarga masih bisa memberikan penerangan
kepada kita dengan cara mendoakan, memohon ampunan, dan meminta pertolongan
dari Allah.
Tetapi, kita
harus ingat, bahwa setelah jasad berada di alam kubur, tidak ada satupun orang
yang akan menemani, baik sanak family, kerabat, suami, isteri ataupun teman. Satu-satunya
yang akan menemani kita di sana adalah amal perbuatan ketika di dunia.
Kita tidak bisa
mengharapkan doa dari orang lain karena yang akan menerangi alam kubur kita,
ialah amal perbuatan yang baik.
Tahukah bahwa jasad
kita yang dikubur di dalam tanah akan mengalami pembusukan-pembusukan?
Pembusukan ini dimulai sejak malam pertama hingga 25 tahun setelah kematian
kita.
Perubahan jasad
kita di alam kubur, bisa diuraikan sebagai berikut:
·
Malam Pertama: pada malam pertama kita berada di alam kubur,
jasad mulai mengalami pembusukan di daerah perut dan kemaluan. Karena itu, agar
selamat, kita harus menjaga perut agar tidak dimasuki barang haram, dan menjaga
kemaluan supaya tersalurkan sesuai syariat Islam.
·
Malam Kedua: di malam ini, mulailah anggota-anggota tubuh yang lain membusuk seperti
limpa, hati, paru-paru dan lambung.
·
Hari Ketiga: anggota-anggota tubuh itu mulai mengeluarkan bau busuk yang
tidak sedap.
·
Seminggu Setelahnya: pada bagian wajah mulai tampak membengkak, juga dua mata, kedua
lisan dan pipi. Jagalah mata dari memandang yang baik, jangan pernah
menggunakannya untuk menyaksikan kemaksiatan; peliharalah lisan dengan
perkataan baik, dan tetap menjaga agar selalu membasahi pipi dengan air wudhu.
·
Setelah 10 hari: masih tetap terjadi pembusukan, kali
ini pada anggota-anggota tubuh seperti perut, lambung, dan limpa.
·
Setelah 2 Minggu: bagian
mahkota atau rambut mulai
rontok.
·
Setelah 15 Hari: lalat hijau mulai bisa mencium bau
busuk dari jarak 5 kilometer, dan ulat-ulat pun mulai menutupi seluruh tubuh
jasad.
·
Setelah 6 Bulan: yang tersisa hanya tinggal
rangka tulang
saja.
·
Setelah 25 Tahun: rangka tubuh kita akan berubah menjadi
semacam biji, dan di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang
sangat kecil disebut ajbudz dzanab
(tulang ekor). Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan oleh Allah pada hari
kiamat nanti.
Perlu ditekankan
lagi bahwa tidak ada yang tahu di mana alam kubur yang sebenarnya selain Allah
Swt. alam kubur itu bukan terletak di dalam tanah, tetapi hanya Allah yang Mha
Mengetahui. Kita hanya wajib mengimani bahwa alam kubur, siksa dan nikmatnya itu
ada.
Suatu ketika
Rasulullah saw melewati salah satu tembok (kuburan) dari tembok-tembok kota Madinah
dan beliau mendengar suara dua orang yang merintih. Rasulullah Saw. bersabda:
“Keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang pertama
tidak mencuci bersih bekas kencingnya dan yang kedua berjalan mengedarkan isu
yang memecah belah.” Kemudian beliau meminta diambilkan dahan pohon kurma, lalu
beliau belah dua dan meletakan pada masing-masing kubur. Beliau ditanya mengapa
melakukan itu? Rasul Saw. menjawab: “Semoga ini meringankan siksa buat mereka
selama dahan itu belum kering”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai seorang
muslim, kita harus meyakini bahwa siksa kubur dan nikmatnya itu benar-benar ada,
yang tidak ada satupun orang yang bisa menghindarinya. Setiap manusia kelak di
alam kubur akan mendapatkan kenikmatan dan juga siksa sesuai amal perbuatannya.
Apakah siksa ataukah nikmat yang akan kita dapatkan, tergantung amal di dunia.
Satu hal lagi,
selamatnya kita di alam kubur bergantung dari mampu atau tidaknya kita dalam
menjawab berbagai pertanyaan Malaikat. Jika mampu melewati
pertanyaan-pertanyaan dari Malaikat, selamatlah ia dan akan tenang di alam
kuburnya.
Sebaliknya, jika
tidak mampu menjawab, sekali lagi, siksa kuburlah ayang akan diterimanya. Ada
banyak jenis siksa kubur, dan semuanya cukup mengerikan, horor, menakutkan, dan membuat bulu roma kita
merinding.
Rasulullah Saw. bersabda,
“Aku tidak
melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.” (HR.
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kita harus ingat
bahwa siksa kubur tidak hanya menyiksa fisik atau lahir seseorang, melainkan
batin dan perasan juga, karena “Kepada mereka
dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (QS. Ghafir [40]: 46).
Tidak bisa
dibayangkan bagaimana tersiksanya batin dan perasaan seseorang jika
diperlihatkan pada dirinya neraka yang akan menjadi tempatnya pada hari kemudian.
Tidak peduli seberapa kokoh dan kuatnya fisik seseorang, jika batinnya tersiksa,
penuh keputusasaan dan ketakutan, maka tak bergunalah raga yang gagah perkasa,
bahkan harta dan kekuasaannya.
Kita harus yakin bahwa di alam kubur
kita akan diperlihatkan calon tempat tinggal di akhirat. Hanya ada dua pilihan yang pasti, yaitu tempat yang indah
(surga) atau tempat yang sangat mengerikan (neraka).
Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan
kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk
calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon
penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini
calon tempat tinggalmu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkanmu pada
hari kiamat...” (HR. Muttafaqun ‘alaih).
Siksa kubur yang
berupa penyiksaan fisik atau batinpun ada beberapa macam. Kubur sendiri bisa
menjadi tempat untuk menyiksa manusia. “Sesungguhnya kubur memiliki himpitan
yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu) Saad bin Muadz telah selamat.”
(HR. Ahmad). Bahkan sempitnya kubur itu sampai bisa
menghimpit tulang belulang, “…lalu
disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan…” (HR. Ahmad, Nasa’i,
Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Pendusta, ketidaktaatan
kepada Allah, pezina, koruptor, muslimah yang tidak taat pada suaminya, atau
suami yang menzalimi istrinya, menerima siksa kubur yang beragam. Allah Maha
Adil akan semua perbuatan manusia. Hati dan seluruh anggota badan kita akan
disiksa apabila berbuat dosa.
Mari kita
renungkan satu riwayat yang agak panjang berikut tentang penggambaran keadaan alam
kubur yang sangat mengerikan.
“Ya. Adapun orang
yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan
kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia
disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau
lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an,
namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari
pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari
kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah
pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang
makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari).
Di alam kubur
juga sebagaimana diberitakan dalam riwayat sahih ada hewan-hewan ganas yang
bertugas untuk menyiksa orang mati bahkan mencabik-cabiknya dengan sangat sadis.
Hewan buas itu dengan kuasa Allah akan menerkam, mencakar, atau bahkan
mencabik-cabit kita karena telah berbuat dosa.
Rasulullah Saw. bersabda,
“Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara
mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’
Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui
anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim).
Ada kalanya siksa
kubur diberikan karena kita tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
dua Malaikat, yakni Munkar dan Nakir. Sebenarnya Munkar dan Nakir sendiri bisa
menjadi siksaan karena untuk orang-orang yang berdosa wajah Munkar dan Nakir
terlihat menyeramkan dan mengerikan. Namun, sebaliknya, apabila orang saleh melihat
Malaikat Munkar dan Nakir, akan terlihat sebagai sosok yang indah dan
menyenangkan pandangan mata.
Inilah hadits
yang menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang kelak akan diajukan oleh Malaikat
Mungkar dan Nakir, di alam kubur. Ingat dan hafal, ya!
“Kemudian ruhnya
dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan
mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab:
“Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia
menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah
laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak
tahu”. Lalu penyeru dari langit berseru, “Hamba-Ku telah (berkata) dusta,
berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka."
Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan,
sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan. Dan datanglah seorang laki-laki
berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan,
“Terimalah kabar yang menyusahkanmu! Inilah harimu yang telah dijanjikan
(keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah
engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah
amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan
hari kiamat”. (HR. Al-Jami).