Maafin Aku ya Allah, Dulu Sering Banget Melalaikan-Mu
  • Jelajahi

    Copyright © nasihatku.my.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Maafin Aku ya Allah, Dulu Sering Banget Melalaikan-Mu

    Sukron Abdilah
    02 Juli 2026, 14:53 WIB Last Updated 2026-07-02T07:53:59Z


    “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
    (QS. Ar-Ruum [30]: 7).


    Lalai adalah salah satu sifat yang dapat menyebabkan kita terjebak dalam kehidupan dunia dengan aneka macam kesengsaraan. Misalnya, lalai belajar menyebabkan kebodohan dan ketertinggalan dalam memahami suatu ilmu; lalai dalam pekerjaan menyebabkan kecelakaan bahkan kemiskinan; lalai dalam menjalankan amanat rakyat sebagai pejabat bisa menyebabkan kejatuhan kepemimpinan. Sungguh, tak ada satu pun kebaikan yang diakibatkan oleh kelalaian.


    Kata bahasa Arab di dalam al-Quran yang memiliki arti melalaikan, menurut M. Quraish Shihab, berarti mengerjakan sesuatu dengan mengabaikan yang lain. Lebih tepatnya, mengerjakan sesuatu yang tidak penting dan meninggalkan sesuatu yang penting. Atau mengerjakan sesuatu yang penting dan mengabaikan sesuatu yang lebih penting. Seperti mementingkan kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat.


    Selama ini sebagian dari kita selalu mengejar dan mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat, namun tidak sedikit justru dalam kenyataan banyak sekali yang melalaikan perintah-perintah Allah demi mengejar sesuatu yang sifatnya duniawi. Boleh jadi kita lebih mementingkan pekerjaan mencari uang ketimbang mengerjakan ibadah yang khusu’ dan ikhlas. Atau kita lebih mengutamakan ilmu-ilmu dunia yang berhubungan dengan kemudahan mencari pekerjaan ketimbang mencari ilmu agama untuk keselamatan menjalani seluruh kehidupan, baik di dunia maupun akhirat. Bahkan, mungkin saja kita juga melelaikan Allah Swt dan lebih menakuti manusia, seperti pada pimpinan, kepala sekolah, atau bos dalam pekerjaan ketimbang takut kepada Allah Swt Sang Maha Pemberi rizki. 


    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 9).


    Al-Quran menyebutkan bahwa salah satu faktor yang bisa membuat kita lalai kepada Allah adalah harta dan anak-anak. Kata anak-anak bisa dimaknai anak buah, karyawan, atau bawahan dalam kepemimpinan. 


    Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia hakikatnya dari Allah, baik harta maupun anak-anak. Semuanya itu adalah ujian. 


    Allah memberi kekayaan kepada manusia, tiada lain agar mereka dermawan dan menjadi penolong bagi yang membutuhkan, antara lain anak yatim dan juga faqir miskin. 


    Namun, ada kalanya justru sebaliknya, anugerah banyak harta yang diberikan Allah justru membuat kita lalai melaksanakan ibadah. Kita malah lebih menyibukan diri dengan berfoya-foya atau membelanjakan harta dengan tidak semestinya, sedangkan kewajiban sebagai hartawan diabaikan. Lebih celakanya lagi, kita malah bersikap sombong. 


    Begitupula anak-anak yang dititipkan Allah sebagai hiasan mata, bukannya dididik dengan benar sesuai perintah Allah agar menjadi anak yang shaleh, malah dimanjakan dengan tidak semestinya, bahkan dijauhkan dari agama. 


    Ingatlah, hidup di dunia begitu singkat. Pergunakan titipan Allah berupa harta dan anak-anak sebagai jembatan kita menuju surga. Jangan lalai dan abai terhadap perintah agama, sebab dapat menjadi penyebab kita masuk neraka. 


    Selain harta dan anak-anak, yang sering melalaikan manusia adalah angan-angan kosong. “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr [15]: 3). 


    Angan-angan kosong adalah salah satu senjata yang akan dijadikan oleh iblis untuk menyesatkan dan melalaikan kita dari mengingat Allah, dari menjalankan ibadah, bahkan lebih jauhnya kita bisa saja menjadi pemalas dan selalu berpangku tangan. 


    Ketahuilah, sesungguhnya angan-angan kosong itu bersumber dari iblis. “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka.” 


    Sebenarnya, tidak masalah kita mengangan-angankan sesuatu; sepanjang rasional dan mungkin terjangkau. Toh, angan-angan juga bisa menjadi dorongan yang kuat untuk melakukan suatu kreasi ataupun melakukan hal besar. 


    Tapi, jika kita mengangan-angankan sesuatu yang tidak mungkin untuk dijangkau, atau hayalannya terlalu membumbung tinggi, jelas hal ini sangat berbahaya, bahkan bisa membinasakan kehidupan kita. 


    Jika selalu menghayalkan sesuatu yang tidak seharusnya, secara tidak sadar waktu akan tebuang sia-sia. Yang lebih ditakutkan lagi malah menjadikan kita malas, bahkan sampai melupakan Allah Swt.


    Karena itu, untuk menghindarkan diri dari melalaikan Allah Swt., biasakanlah untuk senantiasa berdzikir sebanyak-banyaknya, kapan dan di mana saja. 


    Kebiasaan meremehkan dan menganggap sepele mengingat Allah, bisa menyeret kita terhadap kelalaian. Perbanyak dan biasakan mengucapkan astaghfirullah al-‘adzim apabila kita lalai dari mengingat-Nya.


    Tehadap sesuatu yang kita miliki, banyak atau sedikit, selalu ingat Allah beserta nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Tak ada sesuatu yang tejadi di dalam hidup ini kecuali atas kehendak-Nya.


    Semua yang kita miliki, entah itu harta, kekuasaan, dan anak-anak; semuanya adalah titipan yang akan dipertanggung-jawabkan suatu hari nanti. Syukuri setiap nikmat yang didapat, besar atau kecil, sedikit atau banyak. 


    Selalu prioritaskan menjalankan ibadah, baik di waktu senggang ataupun sempit. Kita tidak tahu berapa jatah usia kita, jangan sampai kita dipanggil Allah saat sedang melalaikan-Nya. 


    Setiap mengawali segala aktivitas yang baik, biasakan membaca basmalah, sebab dengan membaca bismillahirrahmanirrahiim, insya Allah kita akan senantiasa dinaungi dan dibarengi oleh Allah Swt. 


    Sering-seringlah pula membaca al-Quran dan mentafakuri ayat-ayat-Nya guna menambah pemahaman tentang hidup yang bisa mengantarkan pada peningkatan iman.


    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya); dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,” (QS. Al-Anfal [8]: 2).

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Cendekia

    +