Notification

×

Iklan

Iklan

Manusia Teladan: Cintai Allah, Ikuti Rasulullah

Senin, Oktober 25, 2021 | 10:30 WIB Last Updated 2021-10-25T03:30:22Z


Di dalam diri Rasulullah Saw. ada begitu banyak teladan; kepribadiannya pancarkan keindahan, sabdanya ajak kepada jalan kebenaran, dan keteladanannya terus menerus hidup melintasi zaman. 


Tak heran, bila Allah mengistimewakan beliau melalui firman-Nya, “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imran [3]: 31).


Sebagai umatnya, kita harus mencintai Muhammad Saw., sebab cara terbaik mencintai Allah, ialah dengan mencintainya. Mencintai Rasulullah Saw., bukan sekadar ucapan belaka. 


Namun juga, mencintainya dengan ber-ittiba kepadanya, mengamalkan perintah dan sunahnya, meneladani budi pekertinya, serta menghindari apa saja yang beliau larang. Karena sesungguhnya yang keluar dari lisan beliau tidak lain adalah sebuah kebenaran yang berdasarkan petunjuk wahyu dari Allah. 


Dengan mencintai Nabi Saw., Dia (Allah) pun akan balik mencintai kita dan mengampuni segala dosa yang diperbuat. Allah telah mencukupkan jalan untuk mencintai-Nya melalui Nabi Muhammad Saw., karenanya marilah kita penuhi rasa cinta pada Allah hanya dengan ber-ittiba kepada Nabi Muhammad semata. 


Kita tunaikan apa yang diperintahkan beliau dan menghindari apa yang dilarangnya. Kita harus merasa cukup dan percaya, menaati perintah dan larangan beliau adalah yang terbaik sekaligus cara paling benar dalam mencintai Allah.


“Katakanlah: 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Al-Imran [3]: 32).


Ketaatan kita pada Rasulullah ialah ketaatan pula pada Allah Swt. Ketaatan ini juga merupakan wujud kecintaan kita pada Allah. Bahkan, ketaatan kita pada baginda Nabi Saw., ialah tanda kuatnya keimanan dalam hati karena Rasulullah Saw., ialah utusan dan wakil-Nya di muka bumi. 


Meskipun 1300 tahun yang lalu beliau telah wafat, tetapi kita diwajibkan taat padanya. Maka wajarlah bila Allah tidak menyukai apabila kita mengaku beriman, bahkan cinta kepada-Nya, namun berpaling dan menutup diri daripada perintah dan larangan yang Rasulullah disampaikan kepada kita.


Oleh karenanya, mari kita berusaha sebaik mungkin untuk meneladani beliau, dan memenuhi segala syariat dan hukum yang beliau sampaikan melalui sabdanya. Tak perlu kita menciptakan tata cara sendiri dalam beribadah kepada Allah, karena segala bentuk ibadah secara sempurna telah diajarkan oleh Rasulullah.


Rasulullah Saw., bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari).


Sebagai umatnya, kita wajib mengikuti cara Rasulullah dalam beramal dan beribadah, karena mengikuti artinya sama dengan mencintai. 


Coba kita renungi, seorang pecinta akan tunduk patuh pada setiap perintah orang yang dicintainya. Karena itu, bila kita mengaku cinta kepadanya, ikutilah tata cara ibadah beliau; ikuti juga akhlak beliau. 


Sangat disayangkan bila kita melaksanakan ibadah dalam rangka memenuhi kecintaan pada Allah, namun akhirnya segala apa yang kita lakukan tertolak karena tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.


Maksud dari kalimat, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” di dalam surah Ali Imran ayat 31 ialah kita bisa disebut mencintai Allah sebenar-benarnya apabila mengikuti Rasulullah; baik dalam ibadah maupun muamalah. 


Dengan mengikuti Rasulullah, Allah akan selalu mencintai kita sehingga jika Allah mencintai hamba-Nya, Dia akan memberikan kebaikan kepada hamba-Nya itu. Dengan mengikuti jalan hidup yang pernah dilalui Rasulullah, kita tidak gampang berputus asa. Dengan mengikuti cara beribadah Rasulullah, kita tidak akan tersesat. Dengan mengikuti dan meneladani akhlak Rasulullah, kita akan menjadi manusia yang terhormat. Dengan mengikuti Rasulullah pula, kita akan mampu melewati ujian yang diberikan Allah dengan penuh kebahagiaan.   


Tak heran bila Hasan Al-Bashri berujar, “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, lalu Allah menguji mereka mereka melalui ayat ini, di mana Dia berfirman: 'Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”


Barangkali kita sering mendengar atau mengucapkan perkataan, “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya!”. Namun, sudahkah kita meneladani Rasulullah ketika berinteraksi dengan sesama manusia? Sudahkah kita menjalankan sunahnya secara konsisten? Sudahkah akhlak Rasulullah melumuri kepribadian kita? Sudah benarkah ibadah yang kita laksanakan? 


Cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, tak hanya dapat dikemas dengan kata-kata indah, tetapi mewujudkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ke dalam wujud amal yang nyata. Nah, agar amal tersebut diterima dan diberikan pahala oleh Allah, kita harus mengikuti langkah-langkah yang ditempuh Rasulullah; baik dalam beribadah dan bermuamalah dengan sesama manusia. 


Rasulullah adalah pintu cinta yang harus kita lalui untuk memasuki ruangan cinta milik Allah. Ketika kita tidak pernah mau mengikuti cara beribadahnya dan meneladani akhlak Rasulullah, tentunya kita tidak akan pernah dapat memasuki ruangan cinta Allah yang Maha indah, Maha luas, dan menghidupkan hati yang tandus.  


Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqamah berjalan penuh percaya diri menuju pintu cinta Allah, yakni dengan berusaha mengikuti, mentaati, dan meneladani Rasulullah sesuai ajaran Islam.