Notification

×

Iklan

Iklan

Makna Keimanan yang Membuahkan Amal Saleh

Kamis, September 16, 2021 | 19:23 WIB Last Updated 2021-10-24T14:17:17Z


Pentingnya mengejawantahkan keimanan dalam tindakan-tindakan nyata yang berdampak bagi kebaikan makhluk lainnya tidak dimaksudkan untuk mengumbar keimanan itu pada orang lain. Keimanan cukup dirasakan dalam diri, diikrarkan oleh lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan.


Allah Swt., berfirman, “Dan barang siapa mengerjakan kebaikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya” (QS. Thaha [20]:112).

Perubahan adalah sunatullah atau keharusan dalam hidup. Perubahan sangat penting dalam hidup setiap orang. Buktinya, tidak ada satu orang pun yang tidak pernah berubah dalam hidupnya. Justru, perubahan adalah tanda kehidupan. Berbahaya sekali, bila seseorang tidak pernah berubah: kehidupannya stagnan dan monoton.

Air yang diam dalam sebuah genangan lama-lama akan mengandung kotoran, akhirnya mengandung penyakit. Air di sungai yang tidak mengalir lama-lama akan mengeluarkan bau busuk yang juga menimbulkan bahaya bagi lingkungan. Itulah pentingnya perubahan.

Bagaimana dengan diri kita? Perubahan seumpama tubuh yang mesti bergerak aktif. Kalau kita hanya berdiam diri tanpa melakukan gerakan, tentunya sangat membahayakan diri. Kita rentan terkena penyakit obesitas, diabetes, dan darah tinggi. Perubahan juga adalah ketentuan Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Sejak kita dikandung di alam rahim selama 9 bulan atau lebih, lalu dilahirkan, kemudian dibesarkan, dan tumbuh hingga dewasa.

Karena itu, di dalam hidup keseharian, kita juga mesti menganut prinsip perubahan karena dengan melakukan perubahan maka kehidupan masa depan akan cerah benderah. Masalahnya, apakah kita akan menyikapi perubahan itu dengan positif atau negatif? Lalu, apakah hasil perubahan itu akan menjadi lebih baik atau sebaliknya: menjadi lebih buruk?

Perubahan yang kita idamkan tentu adalah perubahan menuju hal yang lebih baik dan perubahan yang mampu disikapi secara positif. Namun, sebagian di antara kita, seringkali merasa takut dengan perubahan. Padahal perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ketakutan terhadap perubahan hanya akan membuat produktivitas menurun. Akibatnya, alih-alih menjadi lebih baik, kita malah mendatangkan keburukan bagi orang lain.

Hijrah adalah move on, berpindah dan menjauh dari keburukan di masa lalu. Maka, semakin banyak perubahan yang terjadi, diri kita pun akan semakin baik dan hidup pun menjadi berkualitas. Oleh karena itu, perubahan harus terus terjadi dan dicari.

Untuk apa? Tentunya untuk peningkatan diri, untuk memperbaiki diri, untuk menjadikan diri kita lebih baik daripada hari kemarin. Lantas, kapan kita berubah menjadi lebih baik? Sekarang. Jangan pernah ditunda-tunda. Jangan pernah sia-siakan kesempatan hidup yang diberikan Allah karena tidak tahu kapan kesempatan itu hilang diambil Sang Pencipta, sebelum kita sempat melakukan perubahan diri.