Notification

×

Iklan

Iklan

Kenikmatan Hakiki Syuhada Perang Uhud

Minggu, Juni 06, 2021 | 04:14 WIB Last Updated 2021-06-05T21:14:47Z

Suatu ketika, malam menyelimuti kota Nabi, Madinah Munawarah. Langit bertabur bintang membawa keheningan bagi seluruh alam yang lelah karena sibuk di siang hari. Nyanyian sore meniup lirih kelopak mata, memasuki alam mimpi yang indah.

Hari itu memang seperti biasa saja. Namun tidak bagi seorang pemuda. Baginya, hari itu sangat istimewa. Hari itu adalah impian yang selama ini ditunggu-tunggunya. Menjadi spesial karena di hari itu, dia akan menikahi seorang perempuan yang amat dicintainya, Jamilah. Hari di mana mereka berdua mereguk keindahan surga dunia.

Betapa manisnya hidup yang diliputi kemesraan sepasang insan yang baru memasuki malam pengantin. Begitu indahnya hari yang tak akan terlupakan oleh mereka berdua. Aroma wangi bunga-bunga bermekaran menyelimuti malam pengantinnya. Dia dan istrinya dipenuhi kerinduan. Air mata kebahagiaan menetes tak terasa. Dia pun memeluk sang pujaan hati seperti seorang tamu yang hendak pergi.

Pemuda itu menghabiskan malam hingga terbit fajar bersama sang istri tercinta. Namun, tiba-tiba ... seruan untuk terjun ke medan juang memanggil. Dia pamit kepada sang istri dengan segera. Dia bangkit sementara kerinduan masih berdenyut seiring detak jantungnya. Pemuda itu pergi mengalahkan nafsu berahinya yang masih ingin bersama bermesraan dengan sang kekasih hati yang cantik jelita nan menawan hatinya.

Pagi-pagi buta, dia berangkat menyusul sang Nabi Saw, menyusun barisan. Peperangan pun kemudian berkecamuk. Tampaknya kemenangan sudah dalam genggaman. Akan tetapi, mabuk kemenangan menggoda pasukan penjaga pos barisan pemanah. Keadaan pun berbalik. Musuh merangsek menyerang ke bukit Uhud.

Pemuda itu masih terus merangsek maju ke arah pimpinan musuh, Abu Sofyan Ibn Harb. Dia telah berhasil mematahkan kaki kuda lawan dan membuat Abu Sofyan jatuh terpelanting ke tanah. Dalam situasi demikian, datanglah Syaddan Ibn Aswad menolong Abu Sofyan. Dan, Syaddad pun menerjang serta berhasil menewaskan pemuda itu dengan sebilah tombak.

Perang Uhud pun usai, menyisakan kekalahan umat Islam. Kesedihan pun tak terelakkan dengan gugurnya sejumlah para sahabat. Di antaranya gugur seorang pemuda yang baru menikah dan baru saja bermalam pengantin. Para sahabat lain mencari mereka yang gugur. Tangan-tangan mereka menemukan jasadnya yang berlumur darah. Mereka heran dengan tetesan air yang menempel di dahi pemuda sang pengantin baru itu. Menempel dari ujung rambutnya. Sepertinya, itu adalah tetesan air mata Jamilah, istrinya yang bersedih hati.

Tetesan air di jasadnya masih misteri bagi para sahabat. Mereka pun mendengar Rasul Saw bersabda, “Aku melihat para malaikat memandikannya di antara langit dan bumi dengan embun di dalam bejana-bejana perak.”

Siapakah lelaki mulia yang baru saja mereguk asmara dengan istri tercinta semalam. Lalu, karena panggilan jiwa, dia berangkat ke medan laga dan syahid di jalan-Nya? Lelaki itu adalah seorang yang dibanggakan kabilah Aus. Dialah Hanzhalah Ibn Abu Amir.

Jamilah, istrinya, mereguk kenangan manis dan singkat dengannya. Senandung kasih abadi yang tidak mungkin dilupakannya. Wangi malam masih tercium di tempat tidur. Istrinya mengisahkan mimpi yang dialaminya sebelum malam pernikahan. Mimpi yang kelak menjadi kenyataan. Jamilah melihat langit terbelah untuk Hanzhalah, maka dia masuk dan setelah itu langit pun menutup lagi.

Mimpi itu begitu mengkhawatirkannya. Dia melihat awan kelam menakutkan sehingga dia meminta kepada empat orang kaumnya untuk menjadi saksi pernikahan Hanzhalah dengan dirinya. Siapa sangka mimpi yang menakutkan itu justru pembawa kabar dari langit bahwa dia kemudian berpredikat sebagai janda istri seorang syuhada perang Uhud.

Jika Chairil Anwar memakai diksi “Sekali berarti setelah itu mati”, maka Al-Quran menampilkan kalimat yang jauh lebih indah maknanya. Apakah kalimat indah itu? “... Walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun!” Dan, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Kalimat ini menunjukan makna hidup yang berarti adalah hidup yang berakhir dengan penyerahan diri kepada Allah. Itulah kematian paling indah dari seorang manusia.

Kenikmatan hakiki dalam hidup ialah mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallaah muhammad rasuulallah” di ujung hayat tidaklah mudah dilakukan mulut dan hati. Al-Quran menyatakan, “Jangan sekali-kali mati, kecuali dalam keadaan berpasrah diri kepada Allah.” Artinya, kita wajib menjalani hidup untuk terus-menerus berpasrah kepada Allah. Tanpa lelah. Tanpa lesu. Dan, tanpa henti.