Notification

×

Iklan

Iklan

Sebab Hidup untuk Dikenang, Berbuat Baiklah!

Kamis, Mei 06, 2021 | 03:26 WIB Last Updated 2021-06-01T05:12:40Z


Hidup yang berarti ialah hidup yang diisi dengan kegiatan bermanfaat untuk orang lain. Ketika kita meregang nyawa, maka pada saat itu putuslah segala amal kebajikan. Kita tidak akan dapat beramal bajik ketika berada di alam kubur. Karena itu, kematian kita harus meninggalkan apa yang dapat dikenang oleh generasi setelah kita.

Tanpa sesuatu yang dapat dikenang dan ditinggalkan di muka bumi ini, kematian kita serupa bunga tidur. Kematian kita hanya menyisakan seonggok tumpukan tanah yang menutupi tubuh kita; sementara tetangga dan keluarga kita setelah kita tiada akan dengan mudah melupakan selama kita hidup di dunia.


Ayah saya, bagi masyarakat di Bantarjati, misalnya, akan selalu dikenang karena ia meninggalkan sebuah sekolah dasar di kampung tersebut. Ia bersama warga disana, mendirikan sekolah dasar inpres dengan pengorbanan yang tak bisa dianggap sepele.


Akhirnya setelah melewati tantangan, SDN Bantarjati berdiri juga dan dari SD tersebut sudah lahir ribuan lulusan. Saya bangga kepada almarhum ayah, karena kematiannya tidaklah sia-sia.


Ia memberikan manfaat bagi warga sekitar sehingga dengan demikian jasa-jasanya itu dapat dikenang meskipun jasadnya kini sudah tiada lagi. Namun, namanya akan terukir di dalam ingatan kolektif warga. Saya bangga dengan ayah saya. I love you full Dad!


Karena itu, sejak saya menjadi mahasiswa, tidak tertarik dengan dunia kerja yang membunuh kreativitas. Dunia yang selalu menjadi pencipta “zona nyaman” dalam diri manusia.


Karena itu, sekiranya perusahaan yang mempekerjakan saya, misalnya, mengekang kreativitas dan daya semangat berkarya; la haula wa la quwwata ila billah, saya akan mencari suasana baru. Bahkan saya akan membuka usaha yang dapat menyalurkan kreativitas. Karena dengan begitu, saya dapat berkarya dan dikenang oleh warga di sekitar.


Jadi jangan asal hidup dong. Ayo berkarya juga untuk kemajuan bangsa kita. Karya apa pun, asal memiliki nilai kemanfaatan bagi lingkungan sekitar. Di dalam hadits dijelaskan, ” Manusia yang terbaik (di antara manusia lain) itu, ialah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.”


Penulis artikel ini ialah pengelola www.bincangkata.com