Notification

×

Iklan

Iklan

Rezeki Itu Harus Bermanfaat

Senin, Mei 03, 2021 | 21:52 WIB Last Updated 2021-10-24T14:57:44Z


Jadikanlah apa yang saya peroleh bulan ini sebagai rezeki, harta yang bermanfaat. Dan, menjadi rezeki yang halal, karena diberikan sebagiannya kepada ENGKAU.


Pagi hari ini memang langit terlihat mendung kelabu. Tapi saya masih tetap yakin, Allah akan terus bersama kita. Mengawasi. Memerhatikan. Mengingatkan. Dan, meluruskan arah hidup kita. Innallaha Ma’ana!


Pagi hari ini juga, ibu saya menelpon sebanyak tiga kali. Namun, tidak sempat saya angkat. Selain jarak Yang jauh dari kamar kosan ke kamar mandi, sejak jam tujuh saya sedang mencuci pakaian. Ibu saya, secara berkala selama seminggu sekali menyempatkan menelpon. Satu hal Yang selalu saya tangkap dari isi pembicaraan via telpon itu. Ya, Yang pertama dia tanyakan ialah “kesehatan saya”.


“Bagaimana kabarmu, Nak? Sehat!” Tanyanya.


Dengan sigap dan berbunga-bunga, saya menjawabnya, “Alhamdulillah sehat.”


Setelah itu, kami akan berbicara panjang tentang pepatah-pepatah hidup. Mulai dari soal pekerjaan hingga perjalanan spiritual selalu saya dapatkan ketika berbincang dengan ibu saya. Utamanya, dia bilang semoga saya mendapatkan “rezeki” Yang berkah. Semoga bertambah dan berlipat rezekinya, pesan ibu saya.


Rezeki, saya ingatkan, tidak hanya berkait erat dengan materi. Rezeki juga berkait erat dengan kesehatan manusia. Bahkan, saya berani mengatakan, kesehatan ialah rezeki Yang super berkah. Sebab, dengan kesehatan Yang dimiliki, kita akan menikmati hidup dengan senang dan meyakinkan.


Jadi, jagalah kesehatan Anda. Jangan pernah mengabaikan kesehatan Anda supaya rezeki Yang Anda peroleh menjadi berkah. Ya, semakin bertambah nilai kebaikannya!


Aneh! Begitu batin saya berteriak ketika membaca buku-buku motivasi Islam. Pasalnya, hampir setiap gagasan di buku tersebut memahami “rezeki” secara sempit. “Rezeki”, katanya, melulu hanya diukur dengan kesuksesan material. Kesuksesan Yang diukur hanya dengan kemelimpahan materi. Pengertian ini, sebetulnya, tidak salah juga. Tetapi, Yang lebih tepat mengartikan “rezeki” ialah segala sesuatu Yang memiliki manfaat. Bukan saja Yang dapat Anda rasakan dan dinikmati sendiri. “Rezeki” ialah apa Yang bisa dirasakan orang lain juga.


Anda misalnya mendapatkan gaji dari tempat kerja Anda, kemudian gaji tersebut digunakan untuk biaya pengobatan tetangga. Nah, ini juga bisa disebut dengan “rezeki” kendati gaji tersebut tidak dapat Anda nikmati. Jadi, salah apabila ada orang Yang mengatakan “Ah….itu bukan rezeki saya” ketika gajinya habis digunakan untuk membiayai tetangganya Yang sedang sakit. Sebab, di akhirat nanti apa Yang telah dilakukannya akan mendapatkan balasan super berkah dari Allah Swt.


Arti “mencari rezeki” juga tidak sebatas bekerja dan berusaha; tapi menggenjot kemampuan diri untuk berbagi dengan sesama. Ketika orang lain merasa gembira dengan apa Yang Anda lakukan, Anda telah mendapatkan “rezeki” berlipat-lipat. Sedekah ialah pelipatgandaan “rezeki” Yang super keren. Super pintar. Super cerdas. Super visionable. Dan, super-super Yang lainnya. Dengan sedekah sebetulnya kita sedang menabung dengan bunga Yang berlipat-lipat di akhirat kelak. Sedekah ialah usaha mencari rezeki juga.


Saya tidak setuju bila sedekah diasosiasikan dengan pelipatgandaan Yang akan diperoleh di dunia ini. ada orang Yang bilang, bahwa dengan bersedekah sekian ribu akan mendapatkan sekian ratus ribu. Pemahaman ini tidak salah juga. Tetapi kurang bijaksana. Kalau saja niatan kita bersedekah hanya untuk mendapatkan pelipatgandaan dari Tuhan di dunia sekarang, hati-hatilah bahwa ketulusan dan keikhlasan Anda ketika berdedekah akan kotor dan berlumuran syirik (meneykutukan Allah).


Akhirnya, mari mencari rezeki Yang halal dan rajinlah bersedekah kepada Yang membutuhkan. Inilah pencarian rezeki Yang pneting dilakukan siapa saja; termasuk saya dan Anda.


Satu hal yang tak pernah saya selesaikan. Merangkai cita-cita. Sejak kecil, saya tak biasa dipupuki si emak dengan cita-cita setinggi langit. Boro-boro jadi pejabat, guru pun tak pernah terlintas dalam buku catatan cita-citaku. Meskipun, almarhum ayah saya seorang guru. Si emak menyekolahkan saya ke pesantren, agar saya menjadi orang baik. Apa pun pekerjaan saya, yang penting dapat mewujudkan saya jadi orang yang baik. Namun, ketika mengikuti pelatihan motivasi hidup. Cara saya merangkai cita-cita tersebut bukan sesuatu yang tepat. “Kurang spesifik”, katanya. Yang lebih spesifik atuh. Misalnya menjadi pengusaha telor asin se-Indonesia.


Kalau betul cita-cita menjadi orang baik tidak spesifik, pantas saja di dunia banyak pekerja atau pengusaha yang tak baik. Satu yang tak saya setujui dari pelatihan semacam itu. Menyalahkan cita-cita saya. Padahal, cita-cita bebas saya rangkai sesuai keinginan dan iklim geo-kultural, di mana saya hidup. Dulu, karena saya berasal dari masyarakat tani dan dipenuhi penduduk stagnan;cita-cita adalah terdiri dari kalimat umum. Ya, salah satunya menjadi orang baik.


Namun, hari ini saya kembali berpikir. Dengan keumuman cita-cita menjadi orang baik saya bisa bebas merangkai cita-cita secara spesifik. Misalnya menjadi penulis sebuah novel. Tentunya penulis yang baik. Itu terjadi karena saya memiliki dasar cita-cita menjadi orang baik. Seandainya tidak memiliki cita-cita tersebut, saya bisa menjadi penulis yang jahat. Hehe, emang ada penulis jahat?


“Wuh nggak heran karir kamu nggak berjalan mulus kron?”, ujar sang motivator.


“Kenapa gitu?”, saya penasaran juga.


“Wong cita-cita kamu sudah tercapai. Jadi kalau menganggur juga yang penting menjadi penganggur yang baik.”


“Busyet…ya..ya..ya. Karena kalau nggak baik hati, pasti akan menjadi pengutil barang-barang orang lain. Naudzubillahi min dalik.”


“Ah..susah ngomong sama kamu….!”


“hehehe.”


Penulis artikel ini ialah pengelola www.bincangkata.com