Notification

×

Iklan

Iklan

Ali Ibn Abi Thalib Selalu Bersedekah

Senin, Mei 03, 2021 | 06:05 WIB Last Updated 2021-05-02T23:05:25Z

Suatu ketika, sayyidina Ali bin Abi Thalib rahimahullah tidak seperti biasanya, pulang lebih sore menjelang waktu shalat Ashar. Putri kesayangan Rasulullah Saw., Fatimah Az-zahra, dengan sukacita menyambut kedatangan suami tercinta. Ia berharap sang suami tercinta – setelah seharian mencari rezeki – membawa uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya yang besar.

Ali karamallahu wajh pun sejenak merehatkan diri, kemudian tersenyum kepada Fatimah seraya berujar, “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun.”

Tanpa disangka-sangka, Fatimah, yang sedang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, menjawab sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.”

“Terima kasih,” jawab Ali. Air matanya menetes lantaran terharu dengan istrinya yang begitu tawakal. Padahal persediaan di dapur sudah habis sama sekali. Fatimah sebagai seorang istri, tidak menunjukan sikap kecewa.

Ali Ibn Abi Thalib lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat Ashar berjamaah. Sepulang dari menunaikan shalat, di tengah perjalanan ia dihentikan seorang sepuh. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?”

“Ya betul. Ada apa, Tuan?” jawab Ali keheranan.

Orang tua itu merogoh kantung seraya berujar, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”

Ali, di tengah keheranannya, saat itu merasa gembira, lalu mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.


Sesampainya di rumah, Fatimah yang mendengar cerita suaminya, sangat gembira karena memperoleh rezeki tak disangka-sangka. Ia lantas menyuruh Ali membelanjakan uang itu semuanya, agar keperluan sehari- hari terpenuhi. Ali dengan bergegas berangkat ke pasar hendak membelanjakan uang 20 dinar itu.

Sebelum memasuki pasar, Ali melihat seorang fakir menadahkan tangan dan berteriak, “Siapakah yang mau mengutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepadaku, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”

Tanpa pikir panjang, Ali segera memberikan seluruh uangnya kepada orang itu. Pada waktu ia pulang, Fatimah sangatlah heran melihat suaminya tidak membawa apa-apa. Lalu Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Mendengar itu, Fatimah sama sekali tidaklah marah. Dengan lapang hati ia memaafkan kelakuan suaminya yang lebih mengutamakan sedekah daripada membeli kebutuhan keluarga. Malah dengan tersenyum dia berkata, “Keputusan kanda adalah yang juga akan aku lakukan seandainya aku yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”

Jiwa kedermawanan Ali Ibn Abi Thalib begitu hebat. Ia dengan sukarela menyedekahkan seluruh uangnya demi mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak. Seorang dermawan, seperti halnya Ali, menyadari bahwa harta dan kekayaan yang akan dibawa pemiliknya ke akhirat adalah harta yang disedekahkan. Allah niscaya akan membalas sedekah dengan pahala yang begitu besar dan agung.

Allah Swt., berfirman, “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS At-Taghaabun [64]:17).

Harta yang disedekahkan akan menjadi penolong kita dari siksa-Nya di akhirat. Ketika hendak memasuki surga-Nya, orang yang rajin bersedekah akan dipersilahkan memasuki surga lewat pintu shadaqah. Sebaliknya, bagi orang yang pelit bersedekah, Allah akan memberikan siksa-Nya, karena hartanya tidak bermanfaat selama di dunia.

Ingat, harta yang kita tinggalkan, hakikatnya milik Allah. Ketika kita tidak memberikan bagian-Nya dengan cara bersedekah kepada orang yang membutuhkan, niscaya akan dihisab. Namun, ketika kita menyedekahkan harta kita, berarti kita telah mengembalikan harta Allah yang dititipkan kepada kita.

Harta kita sesungguhnya buknlah rumah megah, mobil mewah, dan tanah yang berhektar-hektar; harta kita yang sesungguhnya ialah harta yang disedekahkan untuk kemanusiaan. Wallahua’lam Bishshawwab